Oct 13, 2011
Ukuran kepala bagi anak sangat penting, terutama pada bayi untuk memonitor perkembangan dan pertumbuhannya pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Pengukuran diameter kepala bayi perlu dilakukan secara berkala. Pada umumnya setiap kunjungan ke dokter anak, maka diameter kepala akan selalu diukur dan kemudian hasilnya akan dimasukkan ke dalam kurva ukuran kepala untuk dinilai apakah kepala bayi termasuk normal, kecil tidak normal (mikrosefali), atau besar tidak normal (makrosefali).
Mikrosefali (ukuran kepala kecil dibanding normal) dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti misalnya genetik, gangguan kromosom, kurangnya pasokan oksigen selama kehamilan, infeksi, kekurangan gizi, sindrom tertentu, ataupun konsumsi obat-obatan pada saat ibu hamil. Penanganan mikrosefali disesuaikan dengan penyebabnya. Hal yang terpenting justru adalah bagaimana mencegah agar mikrosefali tidak terjadi pada anak. Memberikan edukasi pada ibu hamil, skrining infeksi selama kehamilan, dan memperhatikan serta membatasi konsumsi obat-obat tertentu merupakan langkah yang terbaik.
Makrosefali (ukuran kepala besar dibanding normal) cukup sering dijumpai pada bayi. Penyebab tersering adalah hidrosefalus (terkumpulnya cairan di rongga kepala akibat gangguan aliran cairan otak). Penyebab makrosefali lainnya adalah tumor, genetik, volume otak yang besar, ataupun penebalan dari tulang tengkorak kepala. Penanganan makrosefali pun sama dengan mikrosefali, yaitu disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya tersebut.
Pemeriksaan diameter kepala sangat penting bagi bayi. Setiap ketidaknormalan ukuran kepala, yang disadari oleh orangtua atau karena hasil pengukuran berkala, perlu mendapat perhatian lebih dan sebaiknya segera dikonsultasikan dengan dokter.

No comments
Trackbacks/Pingbacks